mengeritik rencana Israel guna membongkar rumah warga Palestina di Jerusalem Timur, milik Arab, dan mengatakan Washington akan berhubungan dengan para pemimpin Israel dalam masalah permukiman Yahudi.Ramallah, Tepi Barat ( Berita ) : Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Rabu[04/03] ,
Israel menyatakan semua rumah itu yang ditetapkan akan dibongkar “dibangun tanpa izin”. Rakyat Palestina mengatakan izin dari dewan kotapraja Jerusalem, Israel, nyaris tak mungkin diperoleh. Mereka menuduh Israel berusaha mengusir mereka dari Jerusalem Timur, yang direbut Israel dalam Perang Timur Tengah 1967, untuk memberi tempat buat keluarga Yahudi.
Israel menganggap seluruh Jerusalem sebagai “ibukotanya yang utuh dan abadi”, klaim yang tak mendapat pengakuan internasional. Pemerintah Otonomi Palestina mengingini Jerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina.
Dalam suatu taklimat bersama Presiden Palestina Mahmoud Abbas di wilayah pendudukan Tepi Barat Sungai Jordan, Hillary tak sampai mengulangi seruan bagi penghentian segera perluasan permukiman Israel tapi berjanji akan menindak-lanjuti masalah tersebut.
“Kami akan mencari cara membahasnya dalam pembicaraan bersama semua masalah lain yang perlu dibahas dan diselesaikan,” katanya.
“Saya kira untuk saat ini, kita mesti menanti sampai terbentuk pemerintah baru Israel. Itu akan terbentuk segera dan kemudian kami akan meneliti piranti apa saja yang ada,” kata Hillary. Ia juga mengulangi dukungannya bagi berdirinya negara Palestina yang berdampingan dengan Israel.
Mitra perdamaian
Sementara itu Abbas mengatakan jika para pemimpin mendatang Israel tak terikat komitmen pada penyelesaian dua-negara dan menghentikan pembangunan permukiman Yahudi serta pembongkaran di Jerusalem, “kami takkan menganggap mereka sebagai mitra perdamaian”.
Hillary, dalam kunjungan pertamanya ke wilayah tersebut sebagai Menteri Luar Negeri AS, mengatakan Amerika Serikat berencana memainkan “peran koordinasi” untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian.
“Tetapi pada akhirnya, tak seorang pun dapat membuat keputusan mengenai apakah akan ada, atau tidak, dua negara atau penyelesaian perdamaian menyeluruh kecuali mereka yang terlibat langsung,” kata Hillary kepada wartawan yang menyertainya.
Saat ini adalah masa peralihan politik di Israel, yang menyelenggarakan pemilihan umum pada 10 Februari, yang membuat tokoh sayap-kanan Benjamin Netanyahu diundang agar membentuk pemerintah paling lambat hingga 3 April.
Keengganan pemimpin partai Likud itu untuk menyampaikan komitmennya bagi berdirinya negara Palestina dapat menempatkan dia di jalur yang berbenturan dengan penghuni Gedung Putih, Barack Obama.
Sementara Israel masih menghadapi ketidak-tentuan politik dan pembicaraan perdamaian dengan Palestina tetap macet, Hillary menggunakan kunjungannya ke Timur Tengah untuk mengumumkan pendekatan baru guna meningkatkan hubungan AS dengan Suriah.
Ia mengatakan keputusan untuk mengirim dua pejabat senior AS ke Damaskus akhir pekan ini juga bertujuan meletakkan landasan bagi kesepakatan perdamaian menyeluruh.
“Saya percaya ada kesempatan baik bagi Suriah untuk memainkan peran konstruktif jika negara itu memilih untuk melakukannya,” kata Hillary.
Beberapa pengulas politik mengatakan perubahan tersebut juga ditujukan untuk membuat lemah hubungan Suriah dengan Iran dan kelompok gerilyawan Palestina serta Lebanon. ( ant/rtr )
Teheran ( Berita ) : Rabbi Ahron Cohen, pemimpin Masyarakat Yahudi di Inggris, Neturei Karta, mencela Israel karena berpegang pada persepsi asli dan jahat terhadap rakyat Palestina.
Ia mengatakan di sisi “Konferensi Internasional untuk Mendukung Palestina, Lambang Perlawanan, Gaza Korban Kejahatan”,di Teheran, Kamis [05/03] bahwa Zionisme berbeda dengan Judaisme.
Rabbi mencela aksi kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina dan mengatakan pendudukan wilayah Palestina bertentangan dengan Hukum Internasional dan agama tak mengizinkan pertumpahan darah rakyat yang tak berdosa, perbuatan yang dilakukan Israel setiap hari.
Ia mengatakan agama berasal dari Tuhan, jalan hidup saling-menyayangi dan tak memiliki hubungan dengan rezim Israel, yang berpegang pada persepsi asli yang jahat terhadap rakyat Palestina. “Israel mesti berhenti, seperti rezim apartheid di Afrikat Selatan.” katanya. Rabbi Ahron Cohen mengatakan para pemimpin agama Yahudi berdoa bagi kemungkinan dilucutinya rezim Zionis secara damai. ( ant/irna/Oana )
"Sarawak sudah menerima Islam sejak awal abad ke15 lagi, iaitu pada zaman Kesultanan Brunei yang memerintah hampir keseluruhan bahagian Barat dan Utara Borneo.
Institut Tahfiz Bintulu (ITB)
"Sarawak sudah menerima Islam sejak awal abad ke15 lagi, iaitu pada zaman Kesultanan Brunei yang memerintah hampir keseluruhan bahagian Barat dan Utara Borneo.
Walaupun sudah beratus tahun Islam telah bertapak di sini tetapi institusi pendidikan tradisional seperti sekolah pondok seperti yang ada di Semenanjung dan pasentren di Indonesia, tidak tumbuh seperti yang sepatutnya.
Kemungkinan pengaruh Rajah Putih Brooke yang memerintah Sarawak dari 1842 sehinga 1946, adalah terlalu kuat sehingga evolusi pendidikan Islam terbantut. Sebaliknya Sekolah Missionary pula tumbuh macam cendawan di serata Sarawak.
Hasil program pendidikan dan kebajikan yang berterusan oleh pihak gereja, agama Kristian menjadi satu agama besar di bumi Sarawak. Dari zaman Brooke lagi, mubaligh2 Kristian tidak putus-putus berkampung di kawasan pendalaman. Orang-orang Pribumi Sarawak diuliti dengan program welfare gereja dan anak-anak mereka diajar tentang agama Kristian di sekolah2 missionary. Sidang Injil Borneo (SIB) yang lahir dari mazhab Avenglical bergiat cergas di kalangan kaun-kaum Orang Ulu (Kelabit, Kenyah, Kayan, Punan, Penan dll). Bermula dengan hanya 3, 4 orang pada tahun 70an, kini hampir semua Orang Ulu adalah Kristian.
Pada masayang sama agama Islam hanya tertumpu di kalangan masyarakat Melayu. Mungkin asakan dari pengembangan Kristian di sekeliling, Islam jadi terhadang di kawasan majoriti Melayu dan sebahagian masyarakat Melanau sahaja. Sistem pendidikan Islam tradisional hanya berkisar pada pembelajaran membaca al Quran sahaja. Sistem Pondok tidak wujud di Sarawak. Olehitu tidak ada ulama besar lahir di sini. Tidak seperti di semenanjung, kita ada Tok Kenali, Tuan Tulis, Al Fatani dll. Begitu juga di Pulau Jawa, Indonesia telah lahir ulamak Wali Songo.
Samada perwujudan sistem pendidikan Islam disekat atau memang tidak ada individu yang sanggup menubuhkannya, tidaklah diketahui. Penyelikan yang rinci perlu dilakukan untuk menyiasat kenapa sistem pondok atau pasentran tidak tumbuh di Sarawak.
Pemahaman mengenai Islam penduduk setempat yang mempunyai sekolah pondok biasanya lebih tinggi berbanding dari tempat-tempat yang tiada sekolah pondok. Sebagai contoh, kita lihat di Champa (komboja/Laos/Vietnam), masyarakat Islam di sana terpelihara budaya Islamnya walau dihimpit oleh ideologi komunis dan Budha/Hindu, kerana di sana, sistem pondoknya subur.
Mungkin sebab yang lain adalah para Pemimpin Islam yang tidak bersungguh untuk menyebarkan syiar Islam. Jabatan Agama Islam misalnya terlalu lesu sehingga banyak kebajikan Islam terabai. Orang politik Melayu/Islam lebih gemar mengumpul harta dari mengumpul saudara (baru) Islam. Entah apa yang merasuk, mereka hanya sibuk dengan projek balak dan menjarah kantung negeri.
Walaubagaimanapun satu ketika dulu, ada usaha untuk membina madrasah tahfiz di Kuching di bawah kelolaan orang politik tetapi usaha itu tidak berapa menjadi kerana ia menjadi medan percaturan politik daripada mendaulatkan sistem pendidikan Islam. Akhirnya madrasah entah ke mana, program tahfiz entah ke mana.
Walaupun begitu kesedaran bahawa asakan dari program kristianisasi yang mengancam kesinambungan Islam di Sarawak tetap ada. Bermula dari kesedaran ini, tidak berapa lama dahulu, sekumpulan professional muda muslim di Bintulu bertekad untuk mendirikan sebuah "Sekolah Pondok Moden" di Bintulu bagi melahirankan ulama yang dapat membela Islam.
Maka pada tahun 2004 telah ditubuhkan sebuah Jawatankuasa untuk memikir, merencana dan membuahkan satu institusi tempatan yang akan melahirkan ulama yang hafaz al Quran serta berilmu modeni. Hasil titik peluh dan pengorbanan para pelopor Islam tempatan, maka akhirnya pada 10 Januari 2009 Institut Tahfiz Bintulu (ITB) berjaya dibuka dengan pengambilan 12 orang pelajar pertama. Di samping program sepenuh masa yang dilalui oleh 12 pelajar tersebut, ITB juga membuka kursus hafiz tidak sepenuh masa bagi mereka yang berminat.
Program Tahfiz (sepenuh masa) adalah selama 3 tahun, yang akan menjana lahirnya para hufaz dari institusi tempatan. Selepas 3 tahun para pelajar ini akan mula belajar kilmu-ilmu Islami dan juga ilmu-ilmu akademik yang lain termasuk pembelajaran komputer. Mereka akan disediakan untuk mengambil pepriksaan SPM pada tahun ke-5. Di akhir program ITB itu nanti akan lahirlah para ulama Islam yang bukan sahaja hafaz al Quran bahkan mempunyai kemahiran ilmu-ilmu dunia juga.
Marlah kita sama-sama doakan agar ITB akan berjaya dan cemerlang dalam mengeluarkan para ulama yang lahir dari bumi Sarawak, yang akan melebarkan hidayah Allah ke seluruh pelusuk bumi Kenyalang. Amin.
Jika ada sebarang pertanyaan sila hubungi Tn Hj Yaacop melalui: Email Tn Hj Yaacop
Sheikh Sambal.
Visit the SHEIKH SAMBAL
MIRI OIL TOWN, SARAWAK, MALAYSIA
Dilulus terbit pada Thursday, January 22 @ 21:30:00 MYT oleh TokBatin
Oleh abanglobai
Ketika saya membaca email ini saya merinding ...
ternyata bulan pernah terbelah menjadi dua pada zaman Nabi Muhammad SAW. yaitu dengan mukzizat yang ditunjukkan Nabi kepada kaum Quraisy yang minta dibuktikan kebabiannya. Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi dan mengabulkan do'a umatnya.
Yang berkenan membaca ini email dari milis semoga bermanfaat bagi yang membacanya.
Allah SWT berfirman: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)"
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof.Dr.Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memilik kandungan mukjizat secara ilmiah ? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an.
Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi "Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah" mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: "Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah
shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu".
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah SAW membelah bulan. Kisah itu adalah di masa sebelum hijrah dari Mekah Al-Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok) ?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ?" Mereka menjawab: "Coba belahlah bulan ..." Maka Rasulullah SAW pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya. Maka Allah SWT memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!". Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa
menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Mereka lantas menunggu-nunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan.
Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?". Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!! !".
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: "Sungguh,telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus" , dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ....." sampai akhir surat Al-Qamar. "Ini adalah kisah nyata", demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan? " Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: "Dipersilahkan dengan senang hati." Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: "Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah.... ..." Maka aku pun bergumam:
Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.
Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu pada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa. Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka
kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.
Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?" Mereka menjawab, "Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!" Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!"". Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... (aku pun bergumam), "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan ... saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.
Jakarta, Kompas - Kesempurnaan hidup setiap manusia sesungguhnya tidak didasarkan pada penguasaan atas materi atau hal-hal kebendaan. Hanya pada kondisi kemampuan melepaskan diri dari ikatan kebendaanlah, maka harkat, martabat, dan derajat kemanusiaan dapat ditingkatkan.
Kondisi semacam itu pada konteks kekinian mendahului proses pencapaian keadaan yang disebut manunggaling kawula lan Gusti. “Pada gilirannya, meningkat pula keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan seluruh bangsa,” kata ahli dan konsultan bahasa, sastra, dan budaya Jawa Kuno, Budya Pradipta, dalam makalahnya “Manunggaling Kawula Gusti menurut Serat Wirid Hidayat Jati dan Pengembangannya dalam Kenyataan Hidup Sekarang”, salah satu makalah yang diseminarkan dalam Pantheisme-Manunggaling Kawula lan Gusti dalam Naskah Nusantara di Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Kamis (6/9).
Menurut dia, kondisi yang manunggal dapat dicapai ketika seseorang masih hidup. Manunggal dalam arti kehendak manusia dengan karsa Tuhan. Kondisi itu merupakan ciri kualitas tinggi manusia. Sebaliknya, pada tingkatan kualitas manusia yang terendah, perilakunya di antaranya masih diliputi keserakahan, menang sendiri, pendendam, dan tidak jujur. “Seseorang yang dapat manunggal hidupnya dibimbing sukma sehingga bahagia lahir dan batin,” katanya.
Secara khusus, para peserta seminar dua hari mempertanyakan kaitan bencana silih berganti akhir-akhir ini dengan kehidupan warganya. Sebagian menarik kesimpulan bahwa hal itu disebabkan oleh perilaku pejabat dan masyarakat yang tidak manunggal dengan kehendak Tuhan. Pertanyaan lain, keterkaitan kondisi manunggal yang juga merupakan kesadaran keilahian apakah menjamin kondisi masyarakat adil makmur.
Ahli Jawa Kuna yang juga rohaniwan pada Pusat Spiritualitas Giri Sonta Ungaran, Kuntara Wiryamartana, mengatakan, baik tidaknya kondisi suatu komunitas tergantung dari jumlah individu yang memiliki nilai hidup yang baik. “Dalam hal ini, kuantitas menentukan kualitas.”
Faktanya, tidak banyak orang yang memiliki kualitas hidup semacam itu. Perlu waktu dan sejarah panjang untuk mengembangkan nilai hidup yang baik dari tingkat individu menjadi nilai bangsa. “Harus ada saling gesek untuk menularkan. Soalnya, dari keluarga saja belum tentu nilai-nilai yang baik milik orangtuanya secara otomatis tertular ke anak-anaknya,” kata mantan dosen Universitas Gadjah Mada dan Sanata Dharma Yogyakarta itu.
Pada paparan sehari sebelumnya, Ketua Dewan Sesepuh Sangha Theravada Indonesia Bhikku Dhammasubho Mahathera memprihatinkan runtuhnya nilai-nilai hidup berketuhanan. Harga materi ditempatkan di atas harga diri; harga diri jatuh sambil disorot kamera televisi tidak dianggap risi, demi materi yang dianggap lebih tinggi.
Menurut dia, masyarakat berketuhanan sejati adalah yang tidak ada pemerasan kelas oleh kelas. Masyarakat yang mencapai manunggaling kawula lan Gusti tidak lagi berkembang di dalamnya pemerasan manusia oleh manusia. (GSA)
Sumber: Kompas, Jumat, 7 September 2007
Sesuatu apapun yang terjadi pada diri kita setiap saat bahkan apa yang kita kerjakan akan selalu ada hikmahnya. Yang akhirnya bisa menjadi bermanfaat atau bahkan menjadi merugi, tergantung dari diri kita yang menjadi pelaku yang semuanya digerakkan oleh hati kita, jalan fikiran mana yang harus kita ikuti. Jika kita mengikuti kata hati yang tidak baik tentunya dibelakang hari yang kita dapati adalah kerugian walau bisa dilakukan hanya dengan sesaat. Namun jika kita mengikuti kata hati yang baik, mungkin memerlukan usaha dan tantangan dan bahkan memerlukan waktu dan pengorbanan, namun akan mendatangkan keuntungan yang akan bermanfaat bagi diri kita sendiri atau bahkan juga bermaanfaat bagi orang lain.
Pada hari itu saya sedang mengisi tinta refile ke salah satu tempat, yang tentunya saya cari jarak terdekat dari tempat saya bekerja. Nah sambil menunggu tinta diisi saya iseng-iseng sambil membaca-baca buku yang disediakan untuk pengunjung . Salah satu judul buku itu menggerakkan hati saya untuk membaca karena saya lihat judulnya “Meraih Ketentraman Jiwa” wah ini bagus juga dalam hati saya, dan setelah saya baca ternyata saya tertarik karena didalam buku tersebut mengandung banyak pelajaran filsafat yang baik buat kehidupan kita. Buku tersebut karangan Drs. M. Ikhbal Irham, MA. Salah satunya yang akan saya tuangkan di sini bertema “Meraih Sakinah”. Dalam bukut tersebut disebutkan bahwa Untuk Kata Sakinah ternyata mengandung beberapa pengertian yang yang terkandung berdasarkan dari berbagai sumber atau Tafsir yang berbeda. Salah satu dari tafsir tersebut menyebutkan bahwa Sakinah itu adalah (Ridho, kerelaan hati, rendah hati/tawadhu’). Diantara yang saya ambil dari arti Sakinah adalah Tafakur dan Ketenangan hati yang saya tulis berikut ini :
Tafakur
Diceritakan Pan Aiying, seorang guru wanita yang di middle school di satu propinsi di China, yang baru saja keluar dari sekolah tempat ia mengajar, dijambret ditengah jalan. Sang guru terkejut dan hampir menjerit. Tas yang disandangnya diambil secara paksa. Di dalamnya ada kartu pengenal (KTP), uang sejumlah hampir AS $ 600, dan sebuah handphone. Ia memandangi sang penjambret, sang lelaki muda.
Segera berfikir untuk melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat. Tetapi niat ini diurungkannya (mungkin ia menyadari bahwa melapor ke polisi justru akan menyusahkan dirinya sendiri). Dengan meminjam handphone temannya, ia mencoba mengirim pesan lewat SMS kepada sang penjambret lewat nomor hp-nya yang ada di dalam tasnya yang hilang. Ia menulis dua puluh satu (21) pesan secara beruntun.
Hal yang menarik adalah, seluruh kalimat-kalimatnya tidak menggunakan bahasa yang penuh kemarahan, kasar, cacian atau makian. Ia justru menggunakan kata-kata yang menyentuh hati sang penjambret. Diantara isi SMS yang dikirimnya berbunyi : “Anda ternyata masih cukup muda. Dan jika anda sedang berada dalam kesulitan, saya akan memaafkan anda”. “Mencuri itu adalah sebuah kesalahan, tetapi tidak ada kesalahan yang tak dapat dimaafkan”. “Adalah lebih baik berfikir ke masa depan dan memperbaiki diri. “Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan menjadi orang baik”.
Sayangnya tidak satupun SMS Pan Aiying yang dibalas oleh si penjambret. Sehingga tetelah SMS yang ke dua puluh satu, Pan Aiying sangat terkejut. Di depan pintu rumahnya ia menemukan tasnya kembali. Ketika membuka tas dan melihat isinya dengan cermat, ternyata tidak ada satupun barang-barangnya yang hilang. Bahkan ia menemukan tambahan, sepucuk surat. Perlahan ia buka surat itu dan membacanya. Bunyi surat itu seperti ini :
“Pan Aiying, saya mohon maaf karena telah menyakiti hati Anda. Terimakasih Anda telah menyadarkan saya dari kekeliruan selama ini. Sejak saat ini saya berjanji untuk memperbaiki dan mengubah hidup saya. Saya bertekad untuk menjadi orang baik. Terimakasih.
Ketenangan Hati
Kisah di atas sesungguhnya adalah satu episode dari kehidupan anak manusia. Apa yang dialami oleh Pan Aiying, mungkin pernah kita rasakan yakni kehilangan harta benda atau sesuatu yang kita sayangi. Di sinilah tampaknya kita bisa belajar dari kejadian yang menimpa guru sekolah setingkat SMP ini.
Pertama, hidup ini adalah kumpulan dari berbagai kejadian yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Semua orang akan mengalami hal yang sama. Dan Allah sudah menggilirkan semua itu pada setiap manusia.
“Dan masa-masa/hari-hari (kejayaan-kehancuran, kesenangan-kesusahan) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”(QS. Ali Imran, 3 : 140).
Dalam kehidupan ini, semuanya datang silih berganti. Ada saatnya senang dan jaya, tetapi ada saatnya pula susah dan mengalami penderitaan. Tidak ada manusia yang terus menerus dalam keadaan senang dan sebaliknya tidak manusia yang menderita secara permanen. Kalau ditanya maka setiap orang ingin selalu bahagia dalam hidupnya. Tetapi mungkinkah setiap saat kita mengalami hal-hal yang menyenangkan?
Ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan, maka kita pasti merasakan bahagia. Hati kita akan terbuka. Wajah akan berubah cerah. Perilaku menjadi riang. Hidup terasa semakin lapang. Dan sesungging senyum akan selalu bertengger di bibir kita. Namun saat disakiti umumnya semua orang akan marah, kecewa dan berang. Hati kita menjadi sesak. Wajah berubah menjadi berkerut dan “persegi empat”. Hidup terasa kian sempit. Kita semakin mudah marah dan tersinggung.
Perilaku dan sikap kita beubah terlalu cepat seiring perjalanan hari-hari yang kita rasakan. Padahal jika mencermati ayat di atas, maka kita akan meyakini bahwa di dunia ini sesungguhnya tidak ada kesenangan yang abadi. Begitu juga tidak ada kesengsaraan yang abadi. Semuanya akan berakhir seiring dengan perjalanan waktu. Lalu, mengapa kita harus selalu sewot jika hanya mengalami penderitaan yang sebentar dan pasti akan berakhir?
Kedua, hal yang terjadi pada Pan Aiying yang merupakan salah satu episode dari keseluruhan perjalanan hidupnya, sesungguhnya juga merupakan episode yang pasti terjadi pada setiap orang. Namun mengapa Pan Aiying mampu meredam amarahnya pada sang penjambret dan tetap menggunakan kata-kata yang “menyejukkan” dlam pesan SMS nya? Apakah karena dia seorang guru sehingga lebih bijaksana dalam mengambil kebijakan dan tindakan? Bukankah di sekitar kita masih banyak guru yang juga tidak mampu meredam emosi dan kemarahannya pada anak didik dan orang lain? Dan bukankah kita juga “guru” bagi adik-adik, anak-anak dan keluarga?
Mari kita ambil contoh dalan keseharian kita. Misalkan seorang Ibu yang sedang hamil. Tanyalah pada mereka, apakah hamil itu sendiri enak dan menyenangkan? Atau justru melelahkan? Ya, kita akan mendapatkan jawaban dari sebagian besar mereka bahwa hamil itu berat dan sakit. Ibu yang sedang hamil mudah mengalami kelelahan, capek dn kekuatan fisik terkadang menurun. Apalagi dari hari ke hari sang bayi semakin membesar dan tentu memberatkan. Jangankan untuk berjalan cepat, berjalan santai juga capek. Jangankan duduk lama, berbaringpun juga terasa mengganggu. Walhasil, hamil itu memang tidak menyenangkan. Tetapi benarkah kesimpulan ini?
Jika dikatakan bahwa hamil itu berat, maka jawabannya “ya”. Tetapi jika ditanyakan pada para ibu, maka umumnya mereka akan menjawab bahwa mereka BAHAGIA dengan kehamiloan mereka yang nyata-nyata “menyakitkan”. Bahkan pada waktu akan melahirkan, penderitaan itu bertambah berkali lipat dari waktu-waktu sebelumnya. Sehingga wajar jika dikatakan bahwa melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati. Dan memang ada diantara ibu-ibu yang meninggal dunia setelah melahirkan. Namun dalam kenyataannya, penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa itu, ternyata tidak pernah menyurutkan ibu-ibu untuk hamil lagi. Mereka seakan melupakan semuanya, segera setelah melihat bayi yang mereka lahirkan dalam keadaan sehat wal’afiat. Lalu mengapa mereka bisa bahagia?
Bahagia ternyata tidak selalu berkaitan dengan kenyamanan, kekayaan materi, kesehatan, ketampanan atau kecantikan. Bagi Franklin, mengutip dari Jalaluddin Rahmat, happiness is not more possession of money; it lies in the joy of achievement, in the thrillof creative effort, kebahagiaan tidak terletak pada kepemilikkan uang semata; kebahagiaan terletak pada kegembiraan pencapaian, pada getaran upaya kreatif. Bahagia dimulai dari ketenangan hati dalam menerima suatu peristiwa dan menunjukkan sikap yang tenang dalam menikapi atau memberikan respon terhadap peristiwa tersebut. Semakin tenang hati kita, maka akan semakin bahagia kita. Sebaliknya jika hati kita tidak tenang, maka kehidupan ini terasa runyam dan tidak menyenangkan. Bahagia ternyata adalah ; “a goodthing in our mind/hear”, sesuatu yang indah di dlam hati dan pikiran kita.
Ketiga, ketenangan Pan Aiying dalam merespon masalah yang dihadapinya, ternyata berbuah hal yang luar biasa. Ia tidak berkata kasar dan mencaci maki sipenjambret. Sebaliknya ia justru ‘menyentuh hati’ yang terdalam anak muda itu. Hasilnya, tas dan seluruh isinya kembali ke pangkuan Pan Aiying dalam keadaan utuh, tidak kurang sedikitpun. Bahkan sang penjambret meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya, sekaligus berterimakasih pada Pan Aiying karena telah memberikan sebuah kesadaran kepadanya. Lebih dari itu, ia kemudian berjanji untuk merubah kekeliruannya selama ini dan berjanji untuk menjadi orang baik. Luar biasa……
SYEKH ACHMAD KHATIB SAMBASI IBN ABD GHAFFAR
Syekh Ahmad Khatib Sambasi dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat. Beliau memutuskan untuk pergi menetap di Makkah pada permulaan abad ke-19, sampai beliau wafat pada tahun 1875. Diantara guru beliau adalah Syekh Daud ibn Abdullah al-Fatani, seorang syekh terkenal yang berdomisili di Makkah, Syekh Muhammad Arshad al-Banjari dan Syekh Abd al-Samad al-Palimbani.
Menurut Naquib al-Attas, Khatib Sambas adalah Syekh Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah. Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu guru dari Syekh Nawawi al-Bantani, yang mahir dalam berbagai disiplin ilmu Islam.
Zamakhsari Dhafir menyatakan bahwa peranan penting Syekh Sambas adalah melahirkan Syekh-Syekh Jawa ternama dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada pertengahan abad ke-19. Kunci kesuksesan Syekh Sambas ini adalah bahwa beliau bekerja sebagai fath al-Arifin, dengan mempraktekkan ajaran sufi di Malaysia yaitu dengan bay'a, zikir, muraqabah, silsilah, yang dikemas dalam Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah.
Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syekh Sambasi melalui ajaran-ajarannya setelah beliau kembali dari Makkah. Dikatakan, Syekh Sambasi merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, di antaranya Syekh Abd al-Karim Banteni. Abd al-Karim terkenal sebagai Sulthan al-Syekh, beliau menentang keras imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syekh Sambasi.
Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, mereka menyatakan sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut Sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syekh Sambasi adalah sebagai seorang ulama, dimana tuduhan penulis Eopa tersebut tidak tepat ditujukan kepada beliau. Syekh Sambasi dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan Syekh-Syekh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syekh Tolhah Kalisapu bin Tallabudi dari Cirebon, dan Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad dari Madura, dimana mereka berdua pernah menetap di Makkah.
Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan pada akhir abad ke-19 Thariqat ini menjadi sangat terkenal. Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalaam.
Pada tahun 1970, ada 4 tempat penting sebagai pusat Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di pulau Jawa yaitu: Rejoso (Jombang) di bawah bimbingan Syekh Romli Tamim, Mranggen (Semarang) di bawah bimbingan Syekh Muslih, Suryalaya (Tasikmalaya) di bawah bimbingan Syekh Ahmad Sahih al-Wafa Tajul Arifin (Mbah Anom), dan Pagentongan (Bogor) di bawah bimbingan Syekh Thohir Falak. Rejoso mewakili garis aliran Ahmad Hasbullah, Suryalaya mewakili garis aliran Syekh Tolhah dan yang lainnya mewakili garis aliran Syekh Abd al-Karim Banten dan penggantinya.
Pada prakteknya, ajaran Thariqat disampaikan melalui ceramah umum di masjid atau majelis ta'lim di rumah salah satu anggota Thariqat. Sehingga tidak mengagetkan jika selama masa ceramah umum, tidak ada materi yang terekam dengan cermat. Bagaimanapun juga, di bawah bimbingan Mbah Anom, mempunyai kontribusi yang besar, dimana ajaran thariqat dibukukan dalam sebuah kitab berjudul Miftah ash-Shudur. Tujuan dari kitab ini adalah untuk mengajarkan teori dan praktek Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah sebagai usaha mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hasil usahanya yang lain terkemas dalam kitab Uqud al-Juman, al-Akhlaq al-Karimah, dan buku Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja

